Sabtu, 20 November 2010
Jumat, 19 November 2010
Membandingkan kualitas pendidikan di dua Negara tentu saja bukan hal yang mudah. Ada banyak parameter yang harus diperhatikan, dan variable-variabel yang akan dibandingkan harus sangat jelas, terukur dan metodologis. Itulah sebabnya, dalam tulisan ini saya tidak berniat membandingkan kualitas pendidikan di Indonesia dan Australia secara metodologis, tapi lebih kepada ‘sharing of experience’.
Interaksi yang sedikit banyak menghubungkan saya dengan system pendidikan di Australia, lebih bersumber pada obrolan ringan di kantor pada waktu makan siang, interaksi dengan anak salah seorang teman yang tengah belajar di tingkat setara SMU dan dari penitipan anak tempat Abiel sekolah. So, It is probably inaccurate.
Kabarnya ada perbedaan signifikan dari system pendidikan di Australia di berberapa tingkatan. Hal ini terkait dengan bagaimana mereka memperlakukan siswa dengan cara yang cukup berbeda di tingkat ‘Primary education and below’, ‘Lower secondary education’, dan ‘Upper Secondary education’.
Pada tingkat bawah, Primary school dan up to the 6th grade, suasana belajar berjalan sangat lambat dan bisa dikategorikan sebagai ‘saat bermain’. Yang ingin dibangun dari tahap ini adalah meletakkan ‘pondasi dasar’ secara sistematik bagi anak dan menjadikannya sebagai ‘senjata’ untuk mempelajari dan memahami materi-materi tertentu di tingkat yang lebih tinggi. Fokus diletakkan pada kemampuan berbahasa (membaca dan menulis) serta matematika (berhitung). Subjek-subjek seperti sain, ekonomi, sejarah, seni dan budaya bisa di ‘inkorporasi’ pada materi pelajaran, tetapi hanya berperan sebagai ‘konteks’ dan bukan ‘konten’. Tahap ini adalah awal dari pendidikan wajib (compulsory education).
Lower secondary education adalah tahap berikutnya dari pendidikan wajib. Pada tahap ini berbagai variasi subject (materi pelajaran) mulai diperkenalkan. Beberapa subject yang mendukung pengembangan keterampilan-keterampilan dasar anak dan merupakan pengetahuan esensial bagi seseorang dalam kehidupan bermasyarakat dipelajari dan diimplementasikan secara lengkap. Minat dan bakat dari seorang anak mulai digali di tahap ini.
Pada ‘Upper secondary education’, siswa sudah mulai dikelompokkan dalam bidang-bidang tertentu dan mengambil materi sesuai dengan keinginannya. Di tahap ini ‘loading’ materi cukup padat dan beberapa pengetahuan/keterampilan yang dibutuhkan di tertiary education mulai diperkenalkan pada siswa. Itulah sebabnya tidak jarang kita temukan secondary school dengan fasilitas lab sain yang setara dengan universitas-universitas di tanah air.
Kalau boleh disimpulkan, bersekolah di Australia jauh… jauh lebih mudah dibandingkan sekolah di Indonesia. Anak-anak pindahan dari Indonesia ke Australia memiliki kemungkinan kecil untuk ‘tertinggal’ atau tidak bisa mengikuti pelajaran (tentu saja setelah ‘language barrier’ berhasil diatasi). Sebaliknya, mereka yang telah mengenyam pendidikan dasar/menengah di Australia kemungkinan besar akan mengalami kesulitan berarti saat harus pindah ke sekolah-sekolah di Indonesia. Alasannya, loading materi yg padat semenjak di sekolah dasar, belum lagi kedalaman materi yang cukup signifikan, dan fasilitas yang kurang mendukung. Walaupun demikian, bukan berarti bahwa lulusan-lulusan sekolah dasar/menengah di Indonesia pasti lebih baik dari lulusan sekolah Australia. Mungkin bila dianalogikan, lulusan sekolah Indonesia umumnya lebih jago berhitung dan jago menghafal, sedangkan lulusan sekolah Australia berwawasan lebih luas, lebih kritis dan lebih kreatif…. Mungkin….
Itulah sebabnya, saat di tanah air sedemikian ramai dengan sekolah berstandar nasional(SBN) dan sekolah berstandar international(SBI), semoga itu tidak diartikan sebagai ‘jam sekolah yang lebih panjang’, ‘loading materi yang lebih padat’ atau ‘semakin sedikitnya interaksi siswa dengan linkungannya’, TETAPI ‘fasilitas yang makin baik’, ‘materi yang makin up-to-date’ dan ‘suasana belajar yang semakin fun’…
Interaksi yang sedikit banyak menghubungkan saya dengan system pendidikan di Australia, lebih bersumber pada obrolan ringan di kantor pada waktu makan siang, interaksi dengan anak salah seorang teman yang tengah belajar di tingkat setara SMU dan dari penitipan anak tempat Abiel sekolah. So, It is probably inaccurate.
Kabarnya ada perbedaan signifikan dari system pendidikan di Australia di berberapa tingkatan. Hal ini terkait dengan bagaimana mereka memperlakukan siswa dengan cara yang cukup berbeda di tingkat ‘Primary education and below’, ‘Lower secondary education’, dan ‘Upper Secondary education’.
Pada tingkat bawah, Primary school dan up to the 6th grade, suasana belajar berjalan sangat lambat dan bisa dikategorikan sebagai ‘saat bermain’. Yang ingin dibangun dari tahap ini adalah meletakkan ‘pondasi dasar’ secara sistematik bagi anak dan menjadikannya sebagai ‘senjata’ untuk mempelajari dan memahami materi-materi tertentu di tingkat yang lebih tinggi. Fokus diletakkan pada kemampuan berbahasa (membaca dan menulis) serta matematika (berhitung). Subjek-subjek seperti sain, ekonomi, sejarah, seni dan budaya bisa di ‘inkorporasi’ pada materi pelajaran, tetapi hanya berperan sebagai ‘konteks’ dan bukan ‘konten’. Tahap ini adalah awal dari pendidikan wajib (compulsory education).
Lower secondary education adalah tahap berikutnya dari pendidikan wajib. Pada tahap ini berbagai variasi subject (materi pelajaran) mulai diperkenalkan. Beberapa subject yang mendukung pengembangan keterampilan-keterampilan dasar anak dan merupakan pengetahuan esensial bagi seseorang dalam kehidupan bermasyarakat dipelajari dan diimplementasikan secara lengkap. Minat dan bakat dari seorang anak mulai digali di tahap ini.
Pada ‘Upper secondary education’, siswa sudah mulai dikelompokkan dalam bidang-bidang tertentu dan mengambil materi sesuai dengan keinginannya. Di tahap ini ‘loading’ materi cukup padat dan beberapa pengetahuan/keterampilan yang dibutuhkan di tertiary education mulai diperkenalkan pada siswa. Itulah sebabnya tidak jarang kita temukan secondary school dengan fasilitas lab sain yang setara dengan universitas-universitas di tanah air.
Kalau boleh disimpulkan, bersekolah di Australia jauh… jauh lebih mudah dibandingkan sekolah di Indonesia. Anak-anak pindahan dari Indonesia ke Australia memiliki kemungkinan kecil untuk ‘tertinggal’ atau tidak bisa mengikuti pelajaran (tentu saja setelah ‘language barrier’ berhasil diatasi). Sebaliknya, mereka yang telah mengenyam pendidikan dasar/menengah di Australia kemungkinan besar akan mengalami kesulitan berarti saat harus pindah ke sekolah-sekolah di Indonesia. Alasannya, loading materi yg padat semenjak di sekolah dasar, belum lagi kedalaman materi yang cukup signifikan, dan fasilitas yang kurang mendukung. Walaupun demikian, bukan berarti bahwa lulusan-lulusan sekolah dasar/menengah di Indonesia pasti lebih baik dari lulusan sekolah Australia. Mungkin bila dianalogikan, lulusan sekolah Indonesia umumnya lebih jago berhitung dan jago menghafal, sedangkan lulusan sekolah Australia berwawasan lebih luas, lebih kritis dan lebih kreatif…. Mungkin….
Itulah sebabnya, saat di tanah air sedemikian ramai dengan sekolah berstandar nasional(SBN) dan sekolah berstandar international(SBI), semoga itu tidak diartikan sebagai ‘jam sekolah yang lebih panjang’, ‘loading materi yang lebih padat’ atau ‘semakin sedikitnya interaksi siswa dengan linkungannya’, TETAPI ‘fasilitas yang makin baik’, ‘materi yang makin up-to-date’ dan ‘suasana belajar yang semakin fun’…
Supervisors
Pengalaman melihat teman-teman senasib sepenanggungan dan observasi kecil-kecilan, ternyata supervisor bisa dikategorikan menjadi 3, diantaranya:
Si Superior
Inilah jenis supervisor yang memonopoli pekerjaan-pekerjaan penting. Biasanya supervisor jenis ini menerapkan standar kehadiran tinggi dan loading pekerjaan yang padat. Mahasiswanya diharuskan bekerja(baca : eksis di lab dan bereksperimen) secara full time. Seluruh ide penelitian biasanya bersumber dari supervisor dan mahasiswa berperan hanya sebagai pelaksana lapangan. Dengan system ini, mahasiswa bimbingannya biasanya memiliki pemahaman yang rendah terhadap wawasan penelitian, content dan analisis. Kemampuan menulis mahasiswa menjadi kurang terasah karena sang supervisor seringkali memonopoli atau bahkan mengambil alih peran menulis dan mempublikasi (walaupun tak jarang dia menempatkan mahasiswanya sebagai penulis utama). Ada job desc yang jelas: mahasiswa kerja full time di lab, meng-generate data dan melaporkan—sedangkan supervisor mengintrepetasi hasil dan melakukan analisis. Supervisor jenis ini biasanya tumbuh subur di lab-lab yang menjalankan prosedur baku untuk eksperimen dan hanya mem-variasikan bahan awal. Produktivitas dari grup ini biasanya sangat tinggi, ditandai dengan banyaknya publikasi. Kreativitas supervisor tinggi dan terasah baik, namun sayangnya kreativitas mahasiswa kurang terasah. Suasana kerja biasanya sangat-sangat kompetitif karena semua mahasiswanya menjalankan riset yang relative mirip.
Si Moderat
Sang moderat selalu berusaha menyeimbangkan perannya sebagai pelaksana dan inisiator. Tidak terlalu ketat terhadap kehadiran dan tidak memberikan loading yang berlebihan. Walaupun inisiator dari projek berasal dari supervisor, arah dari penelitian merupakan hasil kreativitas mahasiswa. Proposal penelitian biasanya telah ditetapkan namun arah riset seringkali berbeda dari plot awal. Dengan system ini, mahasiswa bimbingannya dituntut untuk melakukan literature review yang mendalam dan membuat inisiatif-inisiatif baru. Itulah sebabnya waktu untuk benar-benar berada di lab dan bereksperimen tidak terlalu padat. Namun, tatkala mahasiswa ybs mengalami kebuntuan, supervisor ini biasanya langsung mengenali gejalanya dan segera memberikan bantuan. Kemampuan menulis mahasiswa sangat terasah, sekalipun supervisor secara aktif memberikan koreksi dan feedback. Ide-ide pengembangan penelitian yang kebanyakan berawal dari mahasiswa, menyebabkan kemajuan riset yang agak lambat sehingga jumlah publikasi relative rendah. Grup riset yang digawangi supervisor jenis ini biasanya sangat dinamis, tidak terlalu kompetitif dan memiliki variasi riset yang tinggi.
Si Apatis
Seperti yang dibayangkan, supervisor jenis ini cenderung menyerahkan segala urusan pada anak bimbingannya. Mungkin saja ide awal riset berawal darinya, tetapi metode yang dikembangkan, teknik yang dipakai, arah riset dan analisis, sepenuhnya menjadi urusan mahasiswa. Pertemuan supervisor dan mahasiswa biasanya hanya intensif di akhir masa studi, yaitu saat menulisan tesis. Apabila mahasiswanya mengalami kebuntuan, supervisor jenis ini biasanya tidak menyadarinya. Keuntungannya, mahasiswanya bisa dengan leluasa mengambil full-time side-job tanpa terdeteksi dan dapat menghilang berbulan-bulan tanpa protes dari siapapun. Kemandirian dan keteguhan mahasiswa bimbingan dalam menjalankan project merupakan satu-satunya kunci yang menentukan keberhasilan diraihnya gelar di akhir masa studi. Grup riset yang dipimpin supervisor jenis ini biasanya kecil, kurang berkembang dengan objek penelitian yang sangat-sangat bervariasi. Produktivitas? Mungkin alakadarnya.
WHICH ONE YOURS??
Si Superior
Inilah jenis supervisor yang memonopoli pekerjaan-pekerjaan penting. Biasanya supervisor jenis ini menerapkan standar kehadiran tinggi dan loading pekerjaan yang padat. Mahasiswanya diharuskan bekerja(baca : eksis di lab dan bereksperimen) secara full time. Seluruh ide penelitian biasanya bersumber dari supervisor dan mahasiswa berperan hanya sebagai pelaksana lapangan. Dengan system ini, mahasiswa bimbingannya biasanya memiliki pemahaman yang rendah terhadap wawasan penelitian, content dan analisis. Kemampuan menulis mahasiswa menjadi kurang terasah karena sang supervisor seringkali memonopoli atau bahkan mengambil alih peran menulis dan mempublikasi (walaupun tak jarang dia menempatkan mahasiswanya sebagai penulis utama). Ada job desc yang jelas: mahasiswa kerja full time di lab, meng-generate data dan melaporkan—sedangkan supervisor mengintrepetasi hasil dan melakukan analisis. Supervisor jenis ini biasanya tumbuh subur di lab-lab yang menjalankan prosedur baku untuk eksperimen dan hanya mem-variasikan bahan awal. Produktivitas dari grup ini biasanya sangat tinggi, ditandai dengan banyaknya publikasi. Kreativitas supervisor tinggi dan terasah baik, namun sayangnya kreativitas mahasiswa kurang terasah. Suasana kerja biasanya sangat-sangat kompetitif karena semua mahasiswanya menjalankan riset yang relative mirip.
Si Moderat
Sang moderat selalu berusaha menyeimbangkan perannya sebagai pelaksana dan inisiator. Tidak terlalu ketat terhadap kehadiran dan tidak memberikan loading yang berlebihan. Walaupun inisiator dari projek berasal dari supervisor, arah dari penelitian merupakan hasil kreativitas mahasiswa. Proposal penelitian biasanya telah ditetapkan namun arah riset seringkali berbeda dari plot awal. Dengan system ini, mahasiswa bimbingannya dituntut untuk melakukan literature review yang mendalam dan membuat inisiatif-inisiatif baru. Itulah sebabnya waktu untuk benar-benar berada di lab dan bereksperimen tidak terlalu padat. Namun, tatkala mahasiswa ybs mengalami kebuntuan, supervisor ini biasanya langsung mengenali gejalanya dan segera memberikan bantuan. Kemampuan menulis mahasiswa sangat terasah, sekalipun supervisor secara aktif memberikan koreksi dan feedback. Ide-ide pengembangan penelitian yang kebanyakan berawal dari mahasiswa, menyebabkan kemajuan riset yang agak lambat sehingga jumlah publikasi relative rendah. Grup riset yang digawangi supervisor jenis ini biasanya sangat dinamis, tidak terlalu kompetitif dan memiliki variasi riset yang tinggi.
Si Apatis
Seperti yang dibayangkan, supervisor jenis ini cenderung menyerahkan segala urusan pada anak bimbingannya. Mungkin saja ide awal riset berawal darinya, tetapi metode yang dikembangkan, teknik yang dipakai, arah riset dan analisis, sepenuhnya menjadi urusan mahasiswa. Pertemuan supervisor dan mahasiswa biasanya hanya intensif di akhir masa studi, yaitu saat menulisan tesis. Apabila mahasiswanya mengalami kebuntuan, supervisor jenis ini biasanya tidak menyadarinya. Keuntungannya, mahasiswanya bisa dengan leluasa mengambil full-time side-job tanpa terdeteksi dan dapat menghilang berbulan-bulan tanpa protes dari siapapun. Kemandirian dan keteguhan mahasiswa bimbingan dalam menjalankan project merupakan satu-satunya kunci yang menentukan keberhasilan diraihnya gelar di akhir masa studi. Grup riset yang dipimpin supervisor jenis ini biasanya kecil, kurang berkembang dengan objek penelitian yang sangat-sangat bervariasi. Produktivitas? Mungkin alakadarnya.
WHICH ONE YOURS??
Langganan:
Komentar (Atom)


